WELCOME

Selamat Datang Di Willysinurat.blogspot.com

Senin, 01 November 2010

MANUSIA DAN POTENSINYA

Manusia diciptakan ole Tuhan sebagai makhluk paling mulia dan terbaik di antara makhluk ciptaanNya yang lain karena Yuhan memberikan manusia berbagai macam potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk apapun. Namun terkadang, manusia kita tidak sadar bahkan tidak tahu sama sekali apa potensi yang ada pada diri kita sehingga terkadang kita hidup dengan kondisi seadanya, mudah putus ada, mudah menyerah dan tidak mempunyai impian besar atau harapan untuk lebih maju. Kita menjalani aktifitas hidup apa adanya tanpa ada kekuatan untuk menjadikan hidup kita lebih Jika kita pikirkan, sebenarnya ketika kita diciptakan, Tuhan pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan. Maka dari itulah Tuhan membekali manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya. Potensi itu meliputi: potensi jasmani (fisik), ruhani (spiritual), dan akal (mind). Ketiga potensi ini akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri. Manusia diberi kebebasan untuk menentukan takdirnya. Semua itu tergantung dari bagaimana mereka memanfaatkan potensi yang melekat dalam dirinya.
Ketiga potensi tersebut saling menunjang dan melengkapi, tetapi dari ketiga komponen itu, potensi spiritual dan akal memegang peranan penting dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam kehidupan, sebab dari kedua potensi itulah manusia akan tahu kemana akan melangkah, apa yang diinginkan, dan apa yang harus dilakukan. Potensi fisik hanya menunjang kedua potensi tersebut agar lebih sempurna, walau peranannya juga tidak bisa disepelekan. Banyak orang yang mengeluh ketika dikaruniai fisik yang kurang sempurna. Mereka merasa seakan-akan hidupnya tidak berguna. Akhirnya mereka menjadi orang-orang yang berputus asa dan menjadi beban bagi orang lain. Mereka melupakan potensi akal dan spiritual yang dikaruniakan Tuhan. Dalam sejarah kehidupan manusia, ada banyak orang-orang yang luar biasa, mereka dikaruniai keterbatasan fisik, tetapi justru dengan itulah mereka dapat menghasilkan prestasi yang mengagumkan. Mereka menjadikan keterbatasan mereka sebagai motivasi untuk meraih prestasi tinggi.

Setiap hari tubuh jasmani kita perlu mendapatkan makan untuk tumbuh sehat dan menghasilkan energi untuk hidup, sama halnya begitu juga dengan tubuh rohani kita. Namun sayang hal ini sering terlupakan!
Kata-kata kebenaran tak kalah pentingnya menjadi santapan setiap hari bagi kebugaran rohani kita. Kata-kata kebenaran tiada habis untuk dicerna layaknya kita memakan nasi sebagai makanan pokok. Nasi adalah makanan utama kita dari kecil sampai menjelang mati, tak akan pernah bosan untuk dinikmati demi mempertahankan hidup terus berlanjut.
Jadi tiada istilah bosan untuk mendengarkan kata-kata kebenaran setiap harinya.
Setiap hari tubuh kasar kita perlu makanan bergizi untuk tumbuh berkembang, sehat,
dan menghasilkan energi bagi kita untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Kegiatan makan adalah merupakan kewajiban setiap harinya antara 2 sampai 3
kali, dilakukan sepanjang hidup.
Dalam keadaan normal, sehari saja tubuh kita tidak mendapatkan suplai makanan,
maka akan gemetaran, tidak bersemangat, mengalami sakit kepala, dan mudah marah.
Demikian juga dengan tubuh rohani kita, seharusnya mendapatkan makanan berupa
kata-kata kebenaran. Tetapi sayangnya, pada jaman sekarang
manusia lebih banyak menitik beratkan kepada kegiatan makan untuk tubuh
jasmaninya.
Bahkan demi pemenuhan ini harus sampai melupakan kegiatan untuk
memberi makan pada tubuh rohaninya.
Dimana kegiatan pemenuhan makan untuk tubuh rohani adalah yang utama menjadi
terlupakan. Karena ketidakmengertian dan ketidaksadaran memahami makna
kehidupan yang sesungguhnya. Inilah yang dikatakan kebodohan manusia
yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu, orang-orang yang mengerti, akan lebih menitik beratkan pada
pemenuhan makan pada tubuh rohani  sepanjang hidupnya.
Kata-kata kebenaran baginya bagaikan sesuatu yang berharga. Penting bagaikan
mutiara, yang akan selalu dicari sebagai  pusaka hidupnya.
Ditemukan dan kemudian dijadikan sebagai modal yang berguna
agar hidupnya berharga.
Inilah yang dikatakan orang yang memiliki kearifan.
Pada akhirnya mau tidak mau kita harus memilih. Tetapi
masa depan yang baik dalam arti yang sesungguhnya tergantung kearifan kita
dalam memilih.
Seringkali akal di nisbatkan dengan perkara-perkara yang logis. Hal ini mempersempit dengan apa yang dimaksud dengan akal sebenarnya. Realitas yang bisa dijelaskan secara argumentasi dan penalaran adalah sesuatu yang hanya bisa “meyakinkan” karena prosesnya logis dan bersifat analisis dengan mengurainya dalam bentuk konseptual yang sistematis. Pencapaian keadaan “meyakini” seharusnya tidaklah hanya dipersempit dengan pendekatan rasio semata. Kegiatan akal dalam berpikir sebenarnya juga meliputi intuisi dalam memahami realitas selain rasio. Selain bahasa argumentasi (rasio) yang dimiliki oleh akal adalah bahasa hati (intuisi). Kedua bahasa digunakan oleh akal hingga menghantarkan kepada “keyakinan”. Bahasa argumen dianut setia oleh ilmuwan, dan sering digunakan oleh ahli pikir sedangkan bahasa hati dianut setia oleh para ahli jiwa dan sering digunakan oleh ahli kebajikan.
Akal memiliki pendekatan rasio dan intuitif. Pendekatan rasio senantiasa dimengerti (logis) hingga jadi bagian untuk memahami sedangkan pendekatan intuitif senantiasa jelas (terang) dengan sendirinya dapat dimengerti karena kejelasannya hingga kemudian jadi bagian untuk memahami. Kesatuan dalam memahami hingga sampai pada suatu keadaan meyakini adalh kegiatan akal. Kenyataannya kebanyakan manusia memiliki rasio yang tidak tajam dan intuisi yang tidak jelas.
Subjek individu yang berkecendrungan menggunakan rasio senantiasa mengasah potensi rasionya dengan berpikir secara “penalaran”. Sedangkan individu yang berkecendrungan menggunakan intuisi senantiasa memperjelas perasaan(hati)nya. Pendekatan rasio diperoleh dengan proses belajar dan mengajar, diskusi ilmiah, pengkajian buku, pengajaran seorang guru, dan sekolah sedangkan pendekatan intuisi diperoleh dengan penapakan mistikal, penitian jalan-jalan keagamaan, dan penelusuran tahapan-tahapan spiritual. Oleh karenanya tidak heran ketika jika subjek individu yang mengandalkan rasio cenderung berkata “ intuisi tanpa konsep adalah buta” sedangkan subjek yang mengandalkan intuisi cenderung berkata “ rasio anda akan menipu anda tanpa anda sadari”.
Harus disadari keduanya adalah alat pengetahuan yang senantiasa kita olah tanpa disadari dan kenyataanya kita kurang mengenalinya hingga tumpul rasionya dan buram intuisinya hingga tidak terkategori sebagai orang yang berakal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar